In Search of ‘Extinct’ Javan Tiger

Sumber: Jakarta Post, Features, October 30, 2002

Written by Bambang M., Contributor, Yogyakarta

On arrival at small cave in Sumber Wungu village, about 70 kilometers east of Yogyakarta, Didik Raharyono hurried into the cave that locals claimed was home to a Javan tiger.

Armed with a video camera, Didik carefully looked for any signs that suggest existence of tiger: feces, footprints, hair and leftovers – anything. Meanwhile, his wife, Dewi Kurnianingsih, interviewed a peasant who claimed he had seen a tiger in the area.

After two hours, Didik came out with fecal matter and pieces of bones he believed were good signs that proved the locals’ claim. Some pieces of the bones resembled human fingers and ribs.

“I am curious about the villagers’ claim that Javan tigers live here,” says Didik, a 1998 graduate of Gadjah Mada University’s school of biology.

At first, he wanted to install a trap camera near the cave’s entrance to satisfy his curiosity but then he thought the expensive equipment could be stolen if he did.

Didik is obsessed with finding hard evidence to prove his belief that the Javan tiger (Panthera tigris sondaica) still exists although it was officially declared extinct in the 1980s.

His ambition has taken him into forests and outlying caves in many parts of Java.

The official pronouncement was confirmed by the WWF (then the World Wildlife Fund, now called the Worldwide Fund for Nature) after it completed its research in Meru Betiri National Park, East Java, in 1994.

Didik remains in great doubt about all the conclusions that the beast is extinct and is determined to conduct his own research.

He became interested in the research after Matalabiogama, Gadjah Mada University’s biology students club for nature — where Didik also belonged — conducted research with the Meru Betiri National Park in 1997.

Then he was excited to find signs which he claimed showed that the tiger may still exist, three years after WWF completed its survey there.

The club raised the matter in 1998 in a national seminar at Gadjah Mada. One of its recommendations was that more surveys should be conducted in Meru Betiri National Park.

“That was when I convinced myself that I should do my own survey on the Javan tiger,” said Didik, who was born in Pati, Central Java, on Jan. 28, 1970.

Yayasan Kappala Indonesia, an environmental NGO that Didik is affiliated with, established its own research team and Didik was named chairman.

“One of this team’s purposes is to transfer the tiger tracking skill to local people,” Didik said.

His curiosity was also driven by the fact that the government ignored local people’s apparent sighting of the tiger. Some people living near forests told him that they still poached the animal even after it was declared extinct.

“They (the villagers) are not stupid because they know the animal still exists. Besides, they can precisely describe the Javan tiger’s features.”

To make sure that what the villagers saw were the real thing, Didik asks specific questions about the animal. To his surprise, the self-proclaimed poachers have also given him tiger parts as “gifts”: teeth, skin or whiskers of the tigers they had killed some months or years ago. He collects all the parts as material evidence to prove his thesis.

When he met with the poachers, Didik also tries to “lecture” them about the need for conservation.

His biggest problem in carrying out the work is money. “Because the tiger has been officially declared extinct, it is difficult to get sponsors. In 1998, Meru Betiri National Park refused The Singapore Zoo’s offer of funding to install trap cameras in the forest, believing that it would be a useless project.

Didik’s research team, meanwhile, cannot do much without funds from the sponsors of funding institutions. But Didik won’t give up. He has established networking with other environmentalist groups which can give him information about the tiger. Often, he will go on his own account.

After five years, Didik has collected strong evidence to strengthen his belief that the tiger still exists in Java.

The evidence in his collection are bits of hair, skin, footprints, teeth, feces and eyewitnesses’ accounts. He has written and co-authored a number of scientific reports about forests in Java.

His collection of tiger’s hair has been made into a dissertation about the Javan tiger by Erwin Wilianto, a student of biology at Gadjah Mada. His theory that the hair belonged to Javan tiger has been confirmed by the Indonesian Institute of Sciences (LIPI).

In fact Didik once sighted a Javan tiger in Meru Betiri National Park when he and his research team was there for a 14-day survey.

He says the tiger appeared at the bush thanks to the help of a local shaman but before he managed to photograph it, the beast ran away after the two frightened rangers that accompanied the team also ran scared.

“As we were inside the tent at night, we heard the tiger roar at about 2 a.m. That was the most memorable experience of all our expeditions,” he recalls.

He has not set a deadline for proving this thesis. “I will not set a time limit for myself,” he says.

His spirit to track down the Javan tiger got a boost from Dewi, the woman he married two years ago. She will go with him wherever he likes to quench his curiosity about the tiger.

“He says he will make me a live bait to fool the tiger to come out,” she quips.

Green Bay

Green Bay atau Teluk Hijau mungkin tak sepopuler Rajegwesi dengan bantengnya, atau Sukamade dengan penyunya. Tetapi pasir putih nan lembut (Foto-1), air terjun setinggi 8 meter (Foto-2) dan pemandangan karang yang indah (Foto-3) seolah menjadi daya tarik tersendiri bagi teluk ini. Sesuai dengan namanya, teluk ini berwarna hijau jika dilihat dari jauh. Ini berbeda dengan kebanyakan teluk atau laut yang biasanya berwarna biru. Kenapa bisa begitu? Apa mungkin karena ada banyak ganggang hijau? Entahlah….Yang jelas warna hijaunya sangat indah.

Foto 1. Melompat di atas pasir putih

Foto 2. Air terjun setinggi 8 meter

Foto 3. Berenang di dekat karang

Lokasi Teluk Hijau

Teluk Hijau terletak di kabupaten Banyuwangi bagian selatan, tepatnya di antara pantai Rajegwesi dan pantai Sukamade (lihat peta, Teluk Hijau di kanan bawah). Rajegwesi sendiri adalah pintu Taman Nasional Meru Betiri.  Jadi kalau mau menuju ke Teluk Hijau, ikuti saja penunjuk jalan menuju Sukamade atau Rajegwesi.

Peta Taman Nasional Meru Betiri

Estimasi waktu yang dibutuhkan dari Genteng-Jajag-Rajegwesi sekitar 3 jam (menggunakan sepeda motor). Sampai di Rajegwesi anda akan berjumpa dengan pertigaan: yang ke kiri menuju pantai Rajegwesi dan yang ke kanan menuju Teluk Hijau dan Sukamade. Letak Teluk Hijau tak terlalu jauh dari pemukiman penduduk yang paling akhir di daerah Rajegwesi. Oleh karena itu, jika anda membawa kendaran lebih baik jika kendaraan itu dititipkan ke penduduk. Lalu, perjalanan menuju Teluk Hijau dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai Teluk Hijau adalah sekitar 30 menit di jalan utama dan 30 menit di jalan setapak.

Jangan sampai terjebak dengan pantai yang penuh dengan batu (yang mirip batu sungai), karena bukan itu yang disebut dengan Teluk Hijau. Tetapi teruslah berjalan di tepi pantai hingga melewati sedikit semak atau perdu. Di balik semak itulah Teluk Hijau berada.

Yang perlu diperhatikan jika camping di Teluk Hijau ini adalah kondisi pasang surut air laut. Karena jika kondisi air pasang maka ombak bisa menjamah seluruh permukaan pantai. Oleh karena itu, tenda sebaiknya didirikan di daerah semak/perdu agar aman dari jangkauan ombak ketika air laut pasang. Jadi, jangan membangun tenda di tepi pantai.

Foto 4. Memasak di atas batu

Foto 5. Sispena narsis

Kontributor: Suhar (2502002) – 8 April 2011

Cagar Alam untuk Keragaman Hayati

Bayangkan jika kita tak punya apa-apa kecuali tanah yang subur, yang dilalui sungai kecil, yang ditumbuhi padi, yang mendapat matahari sepanjang tahun, yang di depannya ada laut luas membentang.

Kemudian seseorang bertanya:

Berapa persen dari tanah itu yang akan dilandasi rumah? Berapa persen yang akan dilandasi toko? Berapa persen yang akan dilandasi taman bermain? Berapa persen yang dibiarkan liar untuk kepentingan bersama?

Jawabannya pasti bermacam-macam. Namun persentase ‘yang dibiarkan liar’ bisa jadi merupakan pilihan yang terakhir. Atau ‘yang dibiarkan liar’ bukanlah prioritas.

Pertanyaan ini merupakan inti perdebatan 190 delegasi di 10th Conference of the Parties of the Convention of Biological Diversity (COP10) di Nagoya yang berlangsung pada 18 – 29 Oktober 2010. Pertanyaannya: Berapa persen tanah dan laut dari negara yang dapat digunakan untuk suaka (sanctuary) demi kepentingan bersama?

Mengapa kita membutuhkan suaka?

Asosiasi Internasional untuk Konservasi Alam (IUNC) menyatakan bahwa sepertiga dari 52,000 spesies yang hampir punah (endangered species) telah kehilangan habitat. Punahnya sekitar 17,000 spesies ini disebabkan oleh eksploitasi tanah dan laut, yang terjadi 1,000 lebih cepat dari kehancuran karena sebab-sebab alami, misalnya bencana alam. Ahmed Djoghlaf, sekretaris eksekutif dari Konvensi Keanekaragaman Biologis (CBD), juga menyatakan bahwa 75% sumber makanan musnah dalam 100 tahun terakhir.

Apa penyebab kehancuran tumbuhan dan hewan ini? Jawabannya jelas: manusia. Tetapi bukankah manusia memanglah harus mempertahankan hidup dengan mencari dan mengolah sumber pangan?

Benar. Namun demikian, pencarian dan pengolahan ini lebih merupakan dukungan ‘rasa ingin makan’ daripada bertahan hidup. Bacalah buku karangan Jonathan Safran Foer berjudul Eating Animals (2009). Ia menulis bahwa penangkapan ikan salmon di seluruh dunia naik 27% antara 1988 dan 1997. Mengapa penangkapan ikan salmon meningkat? Ini disebabkah oleh permintaan pasar akan salmon: orang ingin makan salmon karena orang lain memakannya.

Proses memperoleh sumber makanan ini juga dipercepat dengan industrialisasi yang dimulai pada akhir abad ke-19. Karena industrialisasi ini, setiap jengkal tanah dan setiap kubik laut dapat dimanfaatkan. Hari ini sumber-sumber makanan dan energi relatif mudah ditemukan, seperti halnya salmon di atas. Yang seringkali dilupakan adalah kapan kita harus membatasinya.

Namun, bagaimana hendak membatasi jika syaratnya pun tidak ada?

Nah, COP10 ingin menghasilkan konsensus tentang berapa persen area negara yang ingin dijadikan cagar alam. Cagar alam merupakan wilayah yang tidak boleh dimanfaatkan lagi. Ini merupakan pembatasan secara tidak langsung. Namun tidak semua negara bersedia menyisakan kawasannya untuk membatasi eksploitasi sumber pangan.

Jepang menyatakan mampu memberikan 15%. Namun, tetangga Jepang yang tanahnya lebih luas, yaitu Republik Rakyat Cina (RRC), enggan menyisakan lebih dari 6% untuk suaka keragaman hayati (biodiversity sanctuary). Hal ini wajar karena RRC atau negara lain yang mengalami industrialisasi pesat, atau pun negara yang arealnya kecil, memang sulit untuk menyumbangkan ‘sejengkal’ area ke dunia.

Pada akhirnya, pilihan dilematis selalu muncul: keragamanan hayati atau industrialisasi? Dulunya COP telah mentargetkan 10%. Namun target 10% belumlah tercapai tahun ini. Seperti halnya penetapan batas karbon dalam Kopenhagen Accord 2009, persentase suaka keragaman hayati memang sulit ditentukan, meski ancaman terhadap hidup manusia sebenarnya sudah di depan mata.

Jepang lebih siap karena pemahaman tentang ‘menyisakan area untuk suaka’ sesuai dengan Satoyama Initiative, sebuah konsep yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara urbanisasi dan konservasi alam. Konsep ini sudah mendarah daging di Jepang. Satoyama Initiative punya tiga pendekatan:

  • Membangun pengertian dalam menyelamatkan ekosistem
  • Menggabungkan pengetahuan ekologi tradisional dengan sains modern
  • Membuat kerangka kerja yang terdiri dari pemilik tanah dan penduduk

Satoyama berasal dari kata ‘sato’ (desa atau kampung) dan ‘yama’ (gunung, hutan, padang rumput). Targetnya sederhana: Membangun keberadaan lahan yang merupakan antarmuka (interface) antara manusia dengan alam. Sebenarnya konsep ini sudah ada di pelbagai negara. Di Indonesia dan Malaysia, konsep antarmuka ini bernama kebun atau pekarangan; di Filipina, ia bernama muyong; di Perancis, ia bernama terroir. Ini berarti bahwa penyisaan area sudah menjadi bagian hidup banyak negara.

Penyisaan area ini juga dapat dilihat dengan banyaknya hutan kota, taman kota atau suaka margasatwa. Namun, jumlahnya belum banyak, dan penyisaan area ini bukan untuk kepentingan internasional. Ia masih di bawah kekuasaan negara.

Yang jadi pertanyaan adalah jika negara menyumbangkan kawasannya untuk kepentingan internasional bagaimana protokol untuk pengelolaan dan pemeliharaan hayati di dalamnya? Belum lagi jika area ini masih didiami orang asli. Di Jepang penduduk suku minoritas bernama Ainu di pulau Hokkaido semakin terdesak. Dapatkah mereka bertahan hidup di area itu? Masalahnya jadi jauh lebih sulit dari sekedar masalah area.

Seorang fotografer bawah laut sedang mengabadikan penyu di kedalaman 13 m. Lokasi penyelaman: pulau Maratua, kepulauan Derawan, Kalimantan Timur, Indonesia. Fotografer: Darmawan Ahmad Mukharror (Total Indonesie).

Kontributor: Arief, Sispena-17

Artikel dimuat di koran Berita Harian, Singapura

Nanggelan – 1994

“Ekspedisi dan kecintaan terhadap Pantai Nanggelan dimulai di angkatan XVII”

Nanggelan diperkenalkan oleh Mas Haryo T. Bintoro, seorang mahasiswa Hubungan Internasional, Univ Jember, pada awal 1994. Mas Bintoro dulu adalah anggota klub fotografi Halcyon yang dipimpin oleh alm. Mas Dewanto (pendiri Sispena). Mas Bintoro kini bermukim di Bogor. Selanjutnya, saya mengajak kawan-kawan Sispena untuk pergi sendiri ke Nanggelan. Acara camping di pantai jadi salah satu kegemaran angkatan 17. Pantai Nanggelan yang berada di selatan Jember ini indah sekali. Di balik pantai ini ada sebuah padang rumput tempat Bos javanicus (banteng) yang jumlahnya tinggal 150 bercengkerama (hingga saat ini saya belum menyaksikan satupun kecuali jejak-jejaknya). Di Nanggelan ini juga, konon, manusia kerdil setinggi 70 cm berada.

Dari Jember, Nanggelan bisa dicapai selama 1 jam, melewati Glantangan (atau Ambulu), Kota Blatter dan Perkebunan Trate. Letaknya kira-kira 45 km dari Jember.

Teluk Nanggelan sangat landai, pasirnya kuning, ombaknya ramah, udaranya segar, senyap dan addictive. Di sana juga terdapat sumber air tawar yang bersih, serta sungai kecil yang mengalir di balik rerimbunan hutan.  Udang juga banyak terdapat di pantainya.

Yang  kami lakukan ketika camping di sana adalah: bangun tidur pukul 6 pagi, udara masih segar, dingin, lalu melepas baju, lari ke laut, menyelam ke tengah, berendam sejenak lalu kembali ke pantai, duduk di tepi pantai, tubuh masih basah, minum kopi dan menikmati udara pagi di cercahan matahari yang hangat (Sispena XVII, 1994)


Dulu dan Sekarang” dari kiri ke kanan: Diah Paulina, Vidia “Nyol” Yuniarti, Endah Utami, Rio Christiawan, Ivan Jaka Perdana, Nanang Wicaksono, Teddy Nanggara, Arief Yudhanto

Narasi: Arief (XVII). Foto: Nyol (XVII)

Angkatan berapa saja yang melanjutkan kecintaan terhadap pantai Nanggelan?


Sispena – Kondisimu Saat Ini

Kontributor: Anks Phow

Pagi itu sebuah SMS membangunkan saya dari tidur. Setelah kubaca ternyata SMS tersebut meminta saya untuk hadir dalam acara tasyakuran untuk memperingati hari bumi dan renovasi sekret baru yang diadakan di rumah Wawa-ketum SISPENA sekarang. Renovasi sekret baru? Berarti SISPENA punya sekretariat baru yang sudah direnovasi? Pikir saya ketika itu. Memang, beberapa bulan yang lalu saya berkunjung ke sekolah dan sempat kebingungan melihat “rumah” saya menjadi tempat pipis dan buang hajat hampir tiap hari oleh para siswa.

Apa aku salah jalan ya? Ah tidak, ini benar kok! Tiga tahun gelibet disini tidak mungkin aku lupa, pikir saya ketika itu. Sontak, aku langsung bertanya pada punggawa SISPENA yang tanpa sengaja aku temui ketika itu. Ia mengatakan bahwa sekretnya sudah di ratakan dengan tanah dan diganti dengan membangun toilet. Wow! Itu toilet ketujuh yang dibangun oleh sekolah akhir-akhir ini.

Lha terus skretnya di kemanakan? Ia menjawab sekretnya sekarang sudah dipindah kedepan mas, katanya. Pindah kedepan? Pasti mengasyikkan karena aku tak lagi harus melewati birokrasi yang ribet untuk berkunjung kesekret dan semakin mudah di akses, pikirku. Tapi ya gitu mas, ia melanjutkan, sekretnya cuma cukup buat satu kursi dan meja saja. Lho?

***

Kira-kira seperti itulah gambaran awal ketika akhirnya para punggawa SISPENA memutuskan menyulap sebagian rumah Wawa untuk dijadikan sekretariat. Memang yang di ubah menjadi sekret adalah bekas toko. Letaknya pun sedikit terpisah dari rumah Wawa, namun masih dalam satu pagar rumah Wawa.

Sedikit banyak saya sangat memahami betapa keberadaan sekretariat begitu vital bagi SISPENA. Ide-ide brilian selalu mencuat diwaktu yang tak pernah diduga, tetapi selalu pada moment ketika kumpul bersama di sekretariat. Belum lagi sekretariat selalu menjadi rumah kedua bagi para punggawa SISPENA pun dengan alumni. Bisa dibayangkan bagaimana ketika kita ingin pulang namun tidak tau harus pulang kemana.

Saya sangat merasakan dulu, ketika masih aktif bergeliat di SISPENA. Bagaimana kemudian SISPENA menjadi tujuan utama ketika aku mulai bingung harus kemana, ketika bingung apa yang harus aku lakukan, ketika aku tak tau dengan siapa aku harus bicara, bercanda ataupun hanya sekedar menghabiskan waktu luang, yang terlintas hanya sekret, sekret dan sekret.

Ada sebentuk keyakinan yang menjalar di tubuhku ketika itu. Aku tak pernah tau apakah ketika aku kesekret akan mampu mengusir sepi yang kurasakan, tapi yang kutahu pintunya selalu terbuka. Aku tak pernah tau apakah ketika aku kesekret akan ada yang aku kerjakan, tapi yang kutahu selalu ada yang kurang disini. Aku tak pernah tau apakah ketika aku kesekret ada seorang kawan yang menemani aku ngobrol, tapi yang kutahu ketika tidak ada kawan aku hanya perlu menunggu paling tidak 30 menit untuk kemudian merencanakan ide-ide konyol ala anak SMA.

Ya, inilah pola komunikasi yang sempat aku jalani dulu, dan pola komunikasi yang kami jalankan adalah pola komunikasi tingkat tinggi. Kenapa tingkat tinggi? Bayangkan tidak ada hand phone, apalagi facebook! Namun kebersamaan kami mampu menembus dimensi tekhnologi. Sampai hari ini saya yakin semua itu terbangun dari ruang sempit berukuran 3x4m.

Kalau saya istilahkan sekret itu bagaikan lumpur hisap. Karena begitu kita masuk, kaki kita akan terasa berat untuk dilangkahkan keluar. Tentu, bukan berat karena kita terlalu malas pulang kerumah, namun lebih pada, begitu tidak ingin kita melepaskan suasana kebersamaan yang mampu melahap waktu dengan cepatnya.

Dan hari ini, aku tak tau dan tak ingin tau seberapa kuat para punggawa SISPENA mempertahankan SISPENA itu sendiri tanpa memiliki sekretariat dengan pintu yang selalu terbuka. Aku tak ingin tau, tentu bukan karena aku tak lagi peduli dengan organisasi yang turut berperan penting dalam hidupku. Namun, aku terlalu tidak siap untuk mendengar cerita-cerita para punggawa SISPENA tentang kita, kami, dan mereka yang tak mampu mempertahankan ekisistensi SISPENA karena tidak ada tempat untuk berkumpul dengan bebas.

0 dan 2800 mdpl

Foto perjalanan Doni (angkatan XVIII), perjalanan ke Alas Purwo dan Kawah Ijen.

Pelantikan Sispena 1981 – 1982

Foto-foto klasik yang didokumentasikan Pak Puguh Santoso. Alumni Angkatan III/IV.