Cerita Sispena 1993 – 1994

Untuk sahabat-sahabatku alumni Sispena, khususnya angkatan XVII – sebuah angkatan yang pernah berada di ambang keruntuhan Sispena, namun bersatu kembali berkat kesetiakawanan, persaudaraan, cita-cita dan semangat untuk memajukan kegiatan alam bebas di SMA 1. Sebuah angkatan yang penuh dengan bakat unik dan orang-orang kocak, yang mengakibatkan setiap rapat selalu guyon thok

arief, ivan, holly, heru, nike, ira, eny, novri, wahyudi, ayud, nina, lukman, nanang, denni “rambi”, denny, charis, wahyuni, diana, endy, nyol, aan, ipul, toni, rio, sunu, diah, eva, hasni, aris, ricky, archie, endah, elly, rully, cak med, fajrih, ardiansyah, teguh, bagas, wawan, bayu, teguh, adi (dan 1 orang lainnya – maaf, lupa)

jumlah personil: 44 (41 registered, 3 non-aktif)

Tes Tulis – Samsat Jember

Suatu pagi di bulan Oktober 1993 (mudah2an tidak salah), saya dengan kawan, Sunu Srurespati Astari, datang tergopoh-gopoh ke halaman SMA 1 Jember. Halamannya sepi, padahal seminggu lalu kami berdua mendaftar untuk ikut tes tulis Sispena. Lalu, seseorang menyuruh kami pergi ke lapangan Samsat di depan SMA 1. Di sana, hampir 100 orang siswa baru berkumpul di depan 30an anggota Sispena. Sebagian dari mereka membentuk kelompok-kelompok yang lebih kecil. Teriakan yang sifatnya memerintah terdengar di mana-mana. Kami yang terlambat 15 menit langsung ditemui seorang “senior”. Dia menyuruh kami push-up sebanyak 15 x 3 = 45 kali. Seperti kebanyakan teman lain, “hukuman” push-up menjadi keseharian setelah hari itu.

Entah itu untuk sekedar perkenalan atau olahraga pagi, tes tulis pada tahun itu diawali dengan pembentukan “demarkasi”. Di sini, ada garis tegas antara senior dan kami, para junior. Bagi kami, “zero defect” atau kesalahan nol itu sangat sulit dihindari; karena biasanya kesalahan selalu dicari.

Setelah mengerjakan tes tulis yang sebenarnya informal belaka, kami pulang. Pada hari itu, mereka yang “kaget” dengan tradisi tes tulis Sispena segera memutuskan tak mengikuti tes fisik bulan depannya. Sebagian yang lain, yang masih punya harapan besar menjadi anggota, masih kesulitan membayangkan apa yang bakal dialami ketika tes fisik nanti; keputusannya diambangkan hingga mendekati hari pendaftaran tes fisik.

Tes Fisik – Perkebunan Rayap, Rembangan

Sekitar 64 orang mengikuti tes fisik. Dalam tes fisik, kami membawa bekal untuk sehari perjalanan. Setelah pemeriksaan kelengkapan dilakukan, kami segera bersiap berjalan kaki menuju perkebunan Rayap, kaki bukit Rembangan. Selama perjalanan, tentu kami bersenda gurau dalam satu regu. Tetapi ketika sampai di bawah jembatan, di mana air sungai masih dangkal, “hukuman” diberikan karena kami tidak berdisiplin dalam perjalanan. Push-up dalam genangan air menjadi pemandangan yang lumrah ketika itu. Tak ada perlawanan, karena “melawan” bisa menjadi kontraproduktif bagi pelawan, meski dalam posisi benar sekalipun.

Setibanya di perkebunan Rayap, acara hukum-menghukum dimulai. Di sini, kesalahan dipertegas dan hukuman yang makin berat diberikan. Push-up (sendiri maupun berantai), sit-up dan merayap jadi pekerjan yang melelahkan sekaligus menjemukan; tetapi tidak bagi senior.

Pukul 2 siang, hujan turun sangat deras. Kami berjalan menuju daerah Gebang. Setelah istirahat sebentar di mushola kecil (ISHOMA = istirahat sholat makan), kami melanjutkan perjalanan ke SMA 1. Hari minggu itu, pukul 6 sore, kami tiba di SMA 1. Badan serasa hancur, penat dan badan basah kuyup. Saat itu, tak ada yang berani membayangkan bagaimana keadaan tubuh saat Diklatsar nanti.

Diklatsar – Bande Alit, Desember 1993

Hanya 44 orang yang mendaftar untuk ikut Diklatsar Sispena XVII pada bulan Desember 1993. Beberapa hari sebelumnya, tanya-jawab dilakukan antara calon anggota dengan senior (jumlahnya ketika itu 26). Ada yang bertanya: boleh nggak bawa kamera, boleh nggak bawa selimut. Bagi kami calon anggota, itu ada pertanyaan lumrah. Tapi bagi senior dan alumni, itu adalah pertanyaan konyol dan lucu (meski tertawanya ditahan – tanpa kentut). Di sini, mereka yang “belum” dan “sudah” mengalami Diklatsar makin jelas bedanya. Bagi yang belum, Diklatsar adalah ruang di mana kepenatan belajar satu semester dibalas dengan jalan-jalan ke hutan, berkemah, membuat api unggun, berinteraksi dengan senior, menjalani hukuman-hukuman “tak terlalu berat” yang mirip saat tes tulis dan fisik, melihat laut, bermain di pantai, menikmati air terjun. Bagi yang “sudah”, Diklatsar bukanlah taman bermain. Di sini, junior mengidap sifat naif (naive), dan senior memiliki kesadaran (consciousness). Bagi mereka yang telah mendapat sedikit cerita dari senior-seniornya, Diklatsar bukanlah tempat menyenangkan, jadi bersiaplah.

Pertama kali menginjakkan kaki di jalan makadam wilayah Bande Alit, kami langsung ingin pulang! Betapa tidak, wilayah yang asing dan kegalakan senior bukanlah impian kami. Kami digiring, diperintah, dihukum, disuruh kompak. Kompak jadi sangat sulit dengan teman-teman baru, yang sebagian memiliki badan masif dan lamban. Tapi kami tabah. Di sini, “putus asa” dan “harapan” merupakan hal yang kongruen: sama-sama ilusi.

Tiga hari kami mengikuti program yang dibuat oleh senior: pemberian materi navigasi darat, analisa vegetasi, survival, evaluasi (berisi hukuman maut di tengah malam), pencarian tanda tangan, olahraga pagi, olahraga sore, dan lainnya.

Jurit malam dilakukan ketika kami tidur nyenyak, dan tentunya sebagian besar terkaget-kaget (tanpa kencing di celana atau sarung). Kami membuntal mata dengan kain apa saja, lalu digiring ke jalan sepi. Tiap kelompok dibimbing seorang senior dan kami semua akhirnya tiba di lahan terbuka. Di sana, ada yang mengaji. Kemudian ada yang merintih sedih. Metode antiklimaks yang sifatnya spiritual ini menghapuskan kepenatan selama empat hari. Fisik dan mental telah ditempa; kini saatnya kita semua kembali ke tataran yang transenden: spiritualitas.

Ketika penutup mata dibuka, sebagian besar mata memerah: ada yang karena menangis, tapi ada juga yang karena ngantuk belaka.

Kami menuju ke air terjun untuk berikrar tetap setia dan memajukan Sispena. Setelah janji Sispena diucapkan bersama, kami menerima kain oranye (slayer) tanpa nomor. Harapan kami terjawab di pagi yang dingin itu, dalam riang-basahnya air terjun. Senyum dan tawa segera meluap. Kini tinggal packing, dan pulang ke Jember.

Menjadi Anggota SISPENA

Terhitung hari itu hingga satu tahun ke depan, kita mesti melaksanakan program-program Sispena. Dari sudut pandang junior, program-program dalam Sispena memberikan pengetahuan sekaligus membuat kami kenal satu sama lain. Tak ada yang lebih berharga daripada mengetahui sesuatu atau seseorang yang baru, di mana kita bisa belajar bagaimana bersikap. Dari sudut pandang senior, program kerja harus terlaksana guna pertanggungjawaban di akhir jabatan. Kegagalan, misal ditandai dengan kecilnya jumlah anggota atau kecelakaan sehingga program dihentikan, berakibat pada runtuhnya kualitas dan eksistensi Sispena. Ketika itu, jumlah anggota yang demikian besar membuat Sispena percaya diri. Tetapi, eksistensi Sispena makin diuji dengan pertanyaan sederhana: “Dengan jumlah yang masif itu, apa yang dapat Sispena lakukan untuk mengharumkan nama SMA 1 dan bermanfaat bagi orang lain dan anggotanya?”

***

Hari ini, sebagian dari kami anggota Sispena XVII masih tetap kontak satu sama lain. Sispena bukan lagi bahan pembicaraan yang hangat. Berbeda dengan masa pascadiklatsar di mana sebulan penuh kami saling bercerita mengenai suka-duka diklatsar dengan tawa yang menggelegar (padahal waktu diklatsar tertawa adalah barang mahal). Hari ini, yang kami dapat adalah persaudaraan. Rasa persaudaraan ini lebih besar maknanya dibanding apapun; dengan persaudaraan kemudahan dan ketentraman hati (yang akhir-akhir ini langka) menjadi air segar di tengah gurun. Dalam membina persaudaraan ini, moralitas yang dimiliki adalah berinisiatif untuk tetap kontak, memberikan semangat dan bantuan tanpa diminta, dan menjauhkan diri dari kesombongan dan iri hati. Setidaknya, secara personal, ini yang saya rasakan.

Maju terus Sispena!

Kontributor: Admin (Arief)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s