Posted by: sispena | February 23, 2009

Temu Cangkruk Alumni – Feb 2009

Temu Cangkruk (acara kumpul-kumpul bagi alumni Sispena) diadakan di rumah Mas Nuri Hendra Waspada, Jalan Danau Toba 19 Jember. Telp 0331-3551555. Acaranya hari Sabtu malam, 21 Februari 2009, jam 19.00 sampai sak kuate. Topik utama: Reuni akbar dan silaturahmi

Hasil temu cangkruk alumni tgl 21 Feb 2009:

  1. Reuni Akbar akan dilangsungkan pada bulan Juli yang bertempat di SMA Negeri 1 Jember (untuk masalah waktu akan dibahas pada pertemuan selanjutnya)
  2. Bagi yang hadir dalam acara temu cangkruk alumni semalam, dimohon untuk membuat list nama anggota sispena yang dapat hadir pada acara reuni akbar sesuai target masing-masing (boleh lebih)
  3. Bagi yang tidak menghadiri acara temu cangkruk alumni semalam, diharapkan kehadirannya pada pertemuan berikutnya (khususnya ada alumni yang berdomisili di Jember)
  4. Pertemuan selanjutnya akan dilaksanakan pada tanggal 7 Maret 2009 di MABES SISPENA, Jl. Danau Toba 19 Jember Telp 0331-3551555 atas nama Nuri Hendra jam 19.00 WIB.. ( Bukan Waktu Bagian Sispena)

Insya Allah kita akan menghadirkan 100 alumni pada saat Reuni Akbar. Terus, hasil “lain” dari temu cangkruk tadi malem (lebih dari 4 jam kita ngumpul):

  • Sharing pengalaman dari temen2 yg sedang njalanin bisnis sendiri
  • Ada mas priyo yang bener2 banyak pengalaman dan pengetahuan soal bisnis yang mgkn dibutuhkan oleh temen2 lainnya
  • Ada juga para RCTI (raja calo tanah indonesia) yang jg saling bertukar info properti dijual

Kontributor: Fafo, Nuri Hendra

Posted by: sispena | February 5, 2009

Pulau Sempu

Pulau Sempu terletak di selatan pulau Jawa. Ia termasuk wilayah kotamadya Malang. Panorama yang alami, hutan, karang, laut selatan dan Segara Anak membuatnya menarik dan eksotis.

peta_pulau_sempu

Segara Anak

Meski ada pantai indah lain yang belum terjamah di pulau Sempu, biasanya orang selalu pergi ke Segara Anak. Segara Anak mirip dengan danau yang dikelilingi oleh karang dan hutan (pepohonan). Air di segara anak ini berasal dari laut selatan yang masuk lewat celah karang.

p1010195

p1010200

Segara Anak

Karena profil Segara Anak yang terlindungi atau tertutup, tidak ada ombak di sana. Ini membuat Segara Anak relatif aman untuk berenang, menyelam (snorkeling) dan memancing. Pantainya juga bisa digunakan untuk main bola dan berjemur. Kedalaman Segara Anak ketika pasang sekitar 2.5 meter, sedangkan kalau surut cuma sampai lutut.

p1010377

p1010198

Di sekitar Segara Anak sulit ditemukan mata air. Air didapat dengan berjalan melintasi tiga bukit dan menyusuri tiga pantai ke arah timur (perjalanan ± 1.5 jam). Namun, biasanya para penikmat alam yang datang ke Segara Anak membawa air dari Sendang Biru. Sendang biru adalah nama pantai tempat menyewa perahu untuk mengantar dan menjemput kita menuju dan dari Pulau Sempu.

Di Pulau Sempu ini ada pemukiman penduduk/nelayan, musholla, dan toilet. Agak lebih jauh ada tempat pelelangan ikan. Kita bisa membelinya dan dibawa menyeberang untuk dibakar di Pulau Sempu.

17 Agustus 2008 kemaren aku dan temen-temen pergi ke sana (total 14 orang; anak Sispena-nya cuma 2 yaitu aku dan Faried). Aku ke sana naik sepeda motor.

p1020658

p10104551

Aku (yang memeluk carrier yang diikat slayer Sispena), Faried (ada di belakang cewek baju putih)

Waktu dan Biaya Perjalanan

  • Perjalanan dari Surabaya ke Malang ± 2 Jam
  • Perjalanan dari Malang ke Sendang Biru ± 2 Jam
  • Tiket Masuk Ke Sendang Biru Rp 40000 (kalau tidak salah per orangnya Rp 3500, biar lebih murah minta diskon/ditawar aja)
  • Tiket Ke Pulau Sempu Rp 40000 (sebenarnya diminta seikhlasnya)
  • Biaya Kapal untuk penyebrangan 75000 (siang), Rp 100000(malam)
  • Lama penyebrangan ± 30 menit
  • Biaya parkir sepeda motor selama di sempu Rp 5000 (dititipkan ke rumah penduduk)
  • Perjalanan menuju Segara Anak ± 1 Jam

Kontributor: Suhar Chandra Kurniawan (2502002)

Suhar Chandra Kurniawan, mantan ketua I Sispena angkatan 25, alumni Teknik Perkapalan ITS.

Posted by: sispena | January 27, 2009

Ekspedisi Gunung Arjuno – Juli 1986

Artikel ini ditulis oleh Mas Nur Hidajat, alumni Sispena, 1985. Foto yang mendampingi tulisan ini merupakan koleksi pribadi yang tertimbun 23 tahun. Berikut kisah perjalanannya.

Saya akan bercerita sedikit mengenai pengalaman naik gunung Arjuno (3339 mdpl) bersama rombongan Sispena. Rombongan? Yup, karena tim pendakinya banyak banget.

Seingat saya, pendakian dilangsungkan pada bulan Juli tahun 1986, ketika  liburan sekolah. Berbekal peralatan pendakian gunung yang masih sederhana banget bila dibandingkan peralatan pendakian era sekarang.

Seingat saya, kami berangkat menumpang bus non-AC menuju Lawang. Sispena membawa tenda segitiga – model pramuka, ransel punggung dengan bingkai pipa besi dengan bantalan tali ransel yang sudah lecek hampir nggak ada lapisan busa-nya. Menyakitkan di pundak, bro. Tapi saya salut dengan semangat tim untuk bisa sampai ke puncak Arjuno. Setiba di Lawang kami berganti dengan kendaraan lokal menuju perkebunan teh Wonosari.

Seingat saya, kami menginap semalam di salah satu gubuk di perkebunan teh. Pagi-pagi kami bergerak naik ke gunung Arjuno. Pergerakan menembus hutan Arjuno “Lalijiwo” yang masih lebat. Sementara di bawah kami, secara hampir bersamaan, ada tim Malvaceae – pecinta alam SMA FIP (sekarang SMA Negeri 4 Jember).

“Kejadian aneh-aneh” adalah saat kami sudah berada di hutan Lalijiwo. Tiba-tiba jalan yang kami lalui tertutup semak belukar (baca: mentok). Untuk menghindari tim tercerai berai, para senior berbagi tugas untuk mencari jalan yang benar. Semua anggota tim yang tidak berkepentingan diharap duduk beristirahat dan “tidak boleh kemana-mana” . Saya kebagian di tengah untuk mencari jejak tanah/trek ke Puncak Arjuno (maklum waktu itu belum ada ilmu navigasi darat dan membaca peta kompas). Lebatnya Lalijiwo memang memungkinkan jalan tanah tertutup semak, di samping memang sudah terkenal dengan mitos “Lalijiwo” yang sering membuat pendaki gunung tersesat. Wallahua’alam. Setelah lama berselang, kami saling bersahutan memanggil teman-teman kami. Dan tiba-tiba ada teriakan lantang bahwa jalan sudah terlihat lagi. Kami pun berkumpul lagi, dan sama-sama menyaksikan bahwa di tempat kami menemukan jalan mentok tadi ternyata kelihatan jalan setapak lagi. Kami termenung sesaat dan selanjutnya setelah berdoa seluruh tim melanjutkan perjalanan pendakian. Saya pun berbicara lirih  “Nuwun sewu, Mbah“.

Kami sempat tidur ditengah hutan semalam. Keesokan harinya kami sudah bisa menggapai puncak Arjuno. Batu-batu terjal menandai puncak gunung yang konon tertinggi ke-dua di antara gunung-gunung di Jawa Timur setelah Semeru. Bunga edelweiss yang berbalut embun dan kristal es menyebar di bawah puncak.

arjuno-86_1st_edited1

arjuno-86_2nd_edited

arjuno-86_3rd_edited

Gunung Semeru sesekali terlihat menyemburkan asap putih bak cendawan yang membumbung ke angkasa. Dari Puncak Arjuno, saya membuat puisi tentang kekaguman saya pada Semeru, dan akhirnya saya bisa menyambangi gunung tersebut tahun 1988.

Kontributor: Nur “Kopie” Hidajat

Nur Hidajat, alumni Sispena, bermukim di Jember, aktif mempromosikan tempat-tempat wisata Jember/Jawa Timur, bekerja sebagai Managing Director PT Warna Indonesia Tour & Travel.

Posted by: sispena | January 21, 2009

Diklatsar Sispena XXXII

Diklatsar Sispena ke-32 dilaksanakan pada: 18 – 21 Januari 2009 di Uus Mumbul, Jember.

Fotografer

Aulia Rachman (2704002) & Uzlifatun Nailan Najaariyatil Mahbubati a.k.a Fafo a.k.a Phow Anks (A2-XXIX) | Kamera: Nikon DSLR D60, Fix Lens 100mm & 18-55mm

Yang ngirim: Rully Djatmiko (A2-XVI), Yang upload: Arief Yudhanto (A2-XVII)

 

Posted by: sispena | November 8, 2008

Semeru (3676 mdpl)

Gunung Semeru atau Sumeru adalah gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa, dengan puncaknya Mahameru, 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl). Kawah di puncak Gunung Semeru dikenal dengan nama Jonggring Saloko.

Diperlukan waktu sekitar empat hari untuk mendaki puncak gunung Semeru pulang-pergi. Untuk mendaki gunung semeru dapat ditempuh lewat kota Malang atau Lumajang. Dari terminal kota malang kita naik angkutan umum menuju desa Tumpang. Disambung lagi dengan Jip atau Truk Sayuran yang banyak terdapat di belakang pasar terminal Tumpang dengan biaya per orang Rp.20.000,- hingga Pos Ranu Pani.

Sebelumnya kita mampir di Gubugklakah untuk memperoleh surat ijin, dengan perincian, biaya surat ijin Rp.6.000,- untuk maksimal 10 orang, Karcis masuk taman Rp.2.000,- per orang, Asuransi per orang Rp.2.000,-

Dengan menggunakan Truk sayuran atau Jip perjalanan dimulai dari Tumpang menuju Ranu Pani, desa terakhir di kaki semeru. Di sini terdapat Pos pemeriksaan, terdapat juga warung dan pondok penginapan. Bagi pendaki yang membawa tenda dikenakan biaya Rp 20.000,-/tenda dan apabila membawa kamera juga dikenakan biaya Rp 5.000,-/buah. Di pos ini pun kita dapat mencari porter (warga lokal untuk membantu menunjukkan arah pendakian, mengangkat barang dan memasak). Pendaki juga dapat bermalam di Pos penjagaan. Di Pos Ranu Pani juga terdapat dua buah danau yakni danau Ranu Pani (1 ha) dan danau Ranu Regulo (0,75 ha). Terletak pada ketinggian 2.200 mdpl.

Setelah sampai di gapura “selamat datang”, perhatikan terus ke kiri ke arah bukit, jangan mengikuti jalanan yang lebar ke arah kebun penduduk. Selain jalur yang biasa dilewati para pendaki, juga ada jalur pintas yang biasa dipakai para pendaki lokal, jalur ini sangat curam.

Jalur awal landai, menyusuri lereng bukit yang didominasi dengan tumbuhan alang-alang. Tidak ada tanda penunjuk arah jalan, tetapi terdapat tanda ukuran jarak pada setiap 100m. Banyak terdapat pohon tumbang, dan ranting-ranting diatas kepala.

Setelah berjalan sekitar 5 Km menyusuri lereng bukit yang banyak ditumbuhi Edelweis, lalu akan sampai di Watu Rejeng. Disini terdapat batu terjal yang sangat indah. Pemandangan sangat indah ke arah lembah dan bukit-bukit, yang ditumbuhi hutan cemara dan pinus. Kadang kala dapat menyaksikan kepulan asap dari puncak semeru. Untuk menuju Ranu Kumbolo masih harus menempuh jarak sekitar 4,5 Km.

Ranu Kumbolo

Ranu Kumbolo

Di Ranu Kumbolo dapat mendirikan tenda. Juga terdapat pondok pendaki (shelter). Terdapat danau dengan air yang bersih dan memiliki pemandangan indah terutama di pagi hari dapat menyaksikan matahari terbit disela-sela bukit. Banyak terdapat ikan, kadang burung belibis liar. Ranu Kumbolo berada pada ketinggian 2.400 m dengan luas 14 ha.

Dari Ranu Kumbolo sebaiknya menyiapkan air sebanyak mungkin. Meninggalkan Ranu Kumbolo kemudian mendaki bukit terjal, dengan pemandangan yang sangat indah dibelakang ke arah danau. Di depan bukit terbentang padang rumput yang luas yang dinamakan oro-oro ombo. Oro-oro ombo dikelilingi bukit dan gunung dengan pemandangan yang sangat indah, padang rumput luas dengan lereng yang ditumbuhi pohon pinus seperti di Eropa. Dari balik Gn. Kepolo tampak puncak Gn. Semeru menyemburkan asap wedus gembel.

Selanjutnya memasuki hutan Cemara dimana kadang dijumpai burung dan kijang. Daerah ini dinamakan Cemoro Kandang.

Pos Kalimati berada pada ketinggian 2.700 m, disini dapat mendirikan tenda untuk beristirahat. Pos ini berupa padang rumput luas di tepi hutan cemara, sehingga banyak tersedia ranting untuk membuat api unggun.

Terdapat mata air Sumber Mani, ke arah barat (kanan) menelusuri pinggiran hutan Kalimati dengan menempuh jarak 1 jam pulang pergi. Di Kalimati dan di Arcopodo banyak terdapat tikus gunung.

Untuk menuju Arcopodo berbelok ke kiri (Timur) berjalan sekitar 500 meter, kemudian berbelok ke kanan (Selatan) sedikit menuruni padang rumput Kalimati. Arcopodo berjarak 1 jam dari Kalimati melewati hutan cemara yang sangat curam, dengan tanah yang mudah longsor dan berdebu. Dapat juga kita berkemah di Arcopodo, tetapi kondisi tanahnya kurang stabil dan sering longsor. Sebaiknya menggunakan kacamata dan penutup hidung karena banyak abu beterbangan. Arcopodo berada pada ketinggian 2.900m, Arcopodo adalah wilayah vegetasi terakhir di Gunung Semeru, selebihnya akan melewati bukit pasir.

Dari Arcopodo menuju puncak Semeru diperlukan waktu 3-4 jam, melewati bukit pasir yang sangat curam dan mudah merosot. Sebagai panduan perjalanan, di jalur ini juga terdapat beberapa bendera segitiga kecil berwarna merah. Semua barang bawaan sebaiknya tinggal di Arcopodo atau di Kalimati. Pendakian menuju puncak dilakukan pagi-pagi sekali sekitar pukul 02.00 pagi dari Arcopodo.

Siang hari angin cendurung ke arah utara menuju puncak membawa gas beracun dari Kawah Jonggring Saloka.

Pendakian sebaiknya dilakukan pada musim kemarau yaitu bulan Juni, Juli, Agustus, dan September. Sebaiknya tidak mendaki pada musim hujan karena sering terjadi badai dan tanah longsor.

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Semeru

Dan selamat menikmati lagu Dewa, Mahameru (Album Format Masa Depan)

 

Mahameru – Dewa 19

Posted by: sispena | October 11, 2008

Dies Natalis Sispena XXXI

Dies Natalis Sispena diselenggarakan untuk memperingati hari jadi Sispena ke-31. Acara diadakan pada tanggal 11 Oktober 2008 di SMAN 1 Jember.

Susunan Acara

1500 – 1600   Pendataan undangan

1600 – 1630   Persiapan upacara

1630 – 1700   Upacara

1700 – 1730   Pelantikan pengurus baru Sispena

1730 – 1740   Persiapan sholat maghrib

1740 – 1810   Sholat Maghrib berjamaah

1810 – 1820   Persiapan ramah tamah

1820 – 1825   Sambutan ketua panitia

1825 – 1830   Sambutan ketua umum dan pemotongan tumpeng

1830 – 1900   Sambutan perwakilan undangan

1900 -            Ramah tamah

Bagi anggota dan alumni yang berada di Jember hari ini, mohon datang ke SMASA.

Posted by: sispena | October 11, 2008

Ketika Usiamu Semakin Bertambah

Angin mendesir… Berhembuslah udara hangat yang menyegarkan… Meski usiamu semakin tua, namun hitam putih benang yang kau rajut tak pernah lusuh termakan zaman.. Hingga kini pun kau tetap menjadi motivator bagi kami..

Kau berikan kami suatu pelajaran yang tak kan pernah  kami dapat dari mana pun.. Kau yang mendewasakan kami dengan segala rintangan yang kami tempuh.. Sekali lagi, warnamu tak pernah lusuh..

Selalu memberi kami keceriaan dengan pancaran ronamu.. Menyatukan kami dengan loyalitas… Menyadarkan kami untuk saling membantu dengan solidaritas.. Tak lupa pula kau tuntun kami dengan tanggung jawab..

Inilah sosokmu yang kami kenal.. Bukan hanya sekedar kain yang berlambang, namun kau ajarkan kami segala hal di sini, di SISPENA…

Mengenang Dies Natalis SISPENA A2 XXIX yang tak pernah kulupa..

Phow
2906009

Posted by: sispena | September 17, 2008

Tips Merawat Tali Kernmantle

BEAL memberikan tips singkat perawatan tali kernmantle:

[1] Cara menyimpan

- Tali disimpan di tempat teduh, jauh dari tempat lembab atau sumber panas
- Temperatur penyimpanan maks = 80 derajat celcius, dan disimpan tidak lebih dari 15 thn
- Ketika menyimpan tali, sebaiknya tali tidak dalam keadaan terikat; ia terbungkus, tapi ujungnya tetap terkena udara luar (hal ini untuk menghindari terpelintir dan simpulnya jd ruwet)

[2] Cara mencuci dan mengeringkan tali

- Untuk mencuci tali BEAL ini, rendam talinya dalam air dingin (suhunya di bawah 30 derajat celcius), pakai deterjen yang lembut (mild), bersihkan memakai sikat sintetik.
- Jika menggunakan mesin cuci, bungkus tali di dalam sarung bantal, airnya bersuhu kurang dari 30 derajat celsius, pilih “delicate wash”. Jangan menggunakan pencuci bertekanan karena akan menekan debu/kotoran masuk ke dalam inti tali dan memutuskan serat.
- Untuk menjemur, jemurlah tali di tempat teduh, yang sirkulasi udaranya bagus.

Sumber: http://www.bealplanet.com

Posted by: sispena | September 13, 2008

Reuni Akbar & Dies Natalis Sispena

Reuni Akbar –> 28 September 2008.

Dies Natalis –> 11 Oktober 2008.

Detilnya menyusul …

Posted by: sispena | August 30, 2008

Alat-Alat Climbing

Peralatan panjat dinding/tebing milik Sispena, konon, dibeli dari ABRI pas awal 90an. Itupun sudah bekas pakai alias second-hand. Alat-alat itu adalah tali kernmantle, karabiner screw-gate (lock), snappling, tali kernmantle diameter kecil untuk runner dan webbing.

Sedangkan tali kernmantle baru (bukan second) dibeli di Surabaya Malang oleh dua anggota Sispena XIII, Didik dan Dudi (yang katanya berboncengan naik motor dan sempat kebingungan masalah duit kas yang dibawa ortu – masih SMA, takut kalo pegang duit banyak2). Peralatan tersebut dibeli dengan uang kas Sispena. Karena sudah uzur, pembaruan peralatan tentu diperlukan untuk meningkatkan keselamatan dalam melakukan latihan panjat tebing.

Hampir dua dekade kemudian, Sispena bakal mendapatkan peralatan baru. Dana abadi alumni yang dikumpulkan beberapa bulan lalu tersimpan sebagian di komisariat Singapura. Dana ini sebagian digunakan untuk membeli:

[1] Tali Kernmantle BEAL diameter 10.2mm Edlinger (50 meter)

[2] Karabiner Petzl Attache Screw-Lock

[3] Karabiner Petzl Am’D Screw-Lock

Rencananya, peralatan gelombang I ini akan diberikan saat ultah Sispena 9 Oktober 08.

Older Posts »

Categories